+62 851 5501 0877 kalajourneyindonesia@gmail.com

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

Jurnal KALA 01: Desa Sarongge, Surga Kopi di Balik Gunung Gede Hari ke-1

Wisata Kopi Sarongge

Hai pembaca setia blog KALA Journey! Kali ini konten blog yang ditulis akan bercerita mengenai perjalanan tim KALA Journey ke salah satu desa wisata yang menjadi daya tarik bagi pecinta kopi. Dari judul kita langsung tahu desa tujuan perjalanan kali ini, ya, Desa Sarongge yang terletak di kaki Gunung Gede. Desa Sarongge merupakan kawasan ekowisata dan konon katanya dijejaki pertama kali oleh seorang kakek bernama Sartawi yang berasal dari Desa Marongge, Sumedang. Beliau pertama kali membangun desa tersebut bersama dengan penduduk hingga saat ini mencapai sekitar 843 jiwa.

Awal Perjalanan

Perjalanan tim pertama kali ditempuh sekitar jam 5 pagi dari Indomaret Versailles, BSD City, menuju checkpoint pertama, yaitu Sate Maranggi Sari Asih. Google Maps menunjukkan estimasi perjalanan sekitar 2,5 jam perjalanan yang berarti tim akan sampai pada pukul 7.30 pagi. Tepat sekitar waktu estimasi, tim langsung turun di checkpoint pertama untuk sarapan pagi, Sate Maranggi Sari Asih

Sate Maranggi Sari Asih
Sate Maranggi Sari Asih

Kuliner satu ini cukup terkenal di kalangan anak muda yang sering nongkrong di daerah Cianjur tengah malam untuk sekedar makan sate saja. Karena tempat ini buka 24 jam non-stop, tim langsung memesan 40 tusuk sate sapi campur (lemak dan daging sapi) dan 4 porsi nasi ketan bakar. Rentang harga yang ditawarkan oleh rumah makan ini terbilang tidak terlalu mahal, yaitu di bawah 50 ribu Rupiah per orang dan ini sudah termasuk teh hangat yang gratis. 

Setelah mencicipi sate sapi yang legend, tim menunggu pihak dari Negri Kopi yang menjemput untuk perjalanan wisata yang pertama. Negri Kopi adalah pihak pengelola dan Pengembang 3 desa, yaitu Desa Tunggilis, Desa Sarongge, dan Desa Pakuon, di bawah komando Pak Tosca Santoso sebagai owner. Kali ini, berhubung Pak Tosca sedang berhalangan, tim ditemani oleh Kak Ivan Rangga Santoso, ya, anaknya Pak Tosca. Kak Ivan sudah membantu ayahnya sejak kecil dalam pengembangan desa, khususnya di dalam dunia per-kopi-an, dan sekarang mengambil peran di Negri Kopi. 

Kak Ivan sedang menjelaskan tentang Sarongge

Tepat jam 8 pagi, Kak Ivan turun dari mobilnya dan menyapa tim pertama kali pagi itu bersama dengan petani kopi lainnya dengan mobil pengangkut buah kopi. Tim tidak menyangka kalau mobil pengangkut tersebut yang akan menjadi transportasi selama wisata. Kak Ivan mempersilahkan tim untuk naik ke mobil tersebut dan semua anggota tim naik ke mobil tersebut. Perjalanan atau bisa kita sebut penjelajahan ekowisata ini menjadikan pesertanya serasa menjadi petualang. 

KALAjourney-transportasi-sarongge
Perjalanan menggunakan mobil pengangkut buah kopi.

Dengan perjalanan selama 35 menit dari Sate Maranggi Sari Asih, tim akhirnya sampai di desa pertama, yaitu Desa Pakuon, desa binaan Negri Kopi. Desa ini terkenal dengan hasil buminya berupa gula aren dan sayur-sayuran segar. Ketika turun dari mobil, tim bisa merasakan kesegaran dan ketenangan Desa Pakuon, maklum saja tim selalu beraktivitas di perkotaan yang sumpek. Kak Ivan memandu perjalanan hingga tim sampai ke satu gubuk sederhana kecil. 

Eksplorasi Gula Aren

Di gubuk tersebut, terlihat seorang ibu sedang memasak satu cairan putih berbuih di atas tungku perapian kayu. Ibu tersebut mempersilahkan tim untuk masuk dan langsung menyuguhkan tim segelas minuman yang dimasaknya tersebut. “Getah aren ini, dek, yang nantinya akan jadi gula aren” kata ibu. Ternyata yang dimasak oleh ibu tersebut adalah getah mentah aren yang sedang diproses secara tradisional menjadi gula aren. Rasa getah aren tersebut sangat otentik, dengan bau gosong sedikit dan manis, tim langsung menyeruput minuman tersebut bahkan ada yang sampai minta nambah.

Minuman hasil olahan dari getah pohon aren

Ternyata tidak jauh dari sana, ada pohon aren yang dikelola oleh masyarakat sekitar yang berusia puluhan tahun dan tim bersama Kak Ivan dan seorang bapak pergi melihat-lihat “kebun” aren hasil kelola masyarakat. “Maklum, pohon aren itu emang liar, dek, tumbuh dimana saja bisa, tidak perlu dirawat, tidak perlu pupuk, bisa tumbuh sendiri, dan menghasilkan sendiri” jelas seorang bapak yang menunjukkan pohon yang dikelolanya. Setiap pagi, bapak tersebut, ternyata, menyadap aren ke dalam sebuah tong tradisional berbahan bambu dan mengantarkannya kepada ibu tadi untuk dimasak seharian sehingga menjadi gula aren. 

Proses memasak getah aren
Getah pohon aren yang sedang dimasak

Setelah mendengar penjelasan mengenai pohon aren dan kisah pertaniannya, tim kembali ke gubuk tersebut untuk melihat gula aren yang baru matang. Setibanya di sana, ibu tersebut sudah siap-siap untuk mencetak cairan yang dimasaknya tadi. Saat ibu tersebut bersiap mencetak, ternyata dari belakang sudah ada anak-anak yang menunggu dan kelihatannya “ingin meminta jatah” gula aren sebagai camilan. Maklum, anak kecil memang suka yang manis-manis. Tim pun langsung mengambil gambar sekaligus mencicipi gula aren hasil buatan ibu yang masih segar. Rasanya? Sangat berbeda dengan gula aren di pasar. Rasa gosong, manis, dan harum yang khas membuat gula aren Desa Pakuon tersohor di Kabupaten Cianjur. “Ini kedepannya juga akan dikembangkan menjadi gula semut (gula aren dalam bentuk serbuk) kok”, tambah Kak Ivan.

Gula Aren hasil produksi Desa Pakuon
Gula aren hasil produksi Desa Pakuon

Liwetan Bersama

Setelah puas mencicipi gula aren, Kak Ivan langsung mengajak tim untuk makan siang bersama di teras salah satu rumah warga. Bentuk makan siangnya sangat tidak biasa. Tim disuguhkan daun pisang besar yang dihamparkan di depan tim bersama dengan nasi liwet panas, sayur segar, teri, dan sambal buatan warga lokal yang sangat enak. Tanpa berlama-lama, tim langsung menyantap makan siang tersebut bersama. Oh ya, kegiatan makan seperti ini merupakan salah satu budaya masyarakat Sunda yang dikenal dengan nama liwetan dan melambangkan kekerabatan dan kekeluargaan antara orang-orang yang makan dari satu daun pisang dan makanan yang sama.

Makan liwetan bersama
Suguhan liwetan dari masyarakat lokal

Makanan yang ludes hingga tertinggal daun pisang sambil duduk menikmati angin pedesaan menjadikan perjalanan ini sangat chill dan berkesan. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang dan itu berarti tim harus berangkat meninggalkan “zona nyaman”nya. Setelah berfoto bersama, perjalanan dilanjutkan ke desa utama,  yaitu Desa Sarongge, pusatnya kopi Sarongge yang terkenal. Perjalanan ditempuh kurang lebih 45 menit hingga tim sampai ke penginapan Sarongge Valley. Penginapan ini terbilang sangat terpencil karena berjarak lumayan jauh dari jalan raya dan sekaligus recommended bagi Anda yang senang menikmati suasana pedesaan. Harga penginapan ini cukup murah. Kalau di Agoda, rentang harga yang ditawarkan kurang lebih 150 sampai 350 ribu Rupiah per kamar untuk 2 orang.

Workshop Sabun Ramah Lingkungan

Setelah tim melakukan check-in, perjalanan dilanjutkan ke Saung Sarongge, tempat pertemuan semacam balai desa, untuk melakukan aktivitas workshop sabun ramah lingkungan. Di sana, tim bertemu dengan Bu Wiwiek, pengelola Saung Sarongge, dan Bu Entin, instructor workshop sabun. Tanpa berlama-lama, tim langsung diajarkan meramu dan membuat sabun ramah lingkungan menggunakan bahan-bahan sederhana, seperti serai, kopi, daun teh, dan daun binahong. Prosesnya cenderung sangat sederhana dan bisa dilakukan di rumah. “Pesan ibu sih, semoga ini bisa dipraktekkan di rumah dan kalian juga bisa buat sabunnya sendiri”, pesan Bu Entin setelah workshop.

Foto bersama sabun ramah lingkungan
Sabun ramah lingkungan hasil dari workshop

Perjalanan hari pertama berakhir dengan workshop sabun ramah lingkungan di Saung Sarongge. Sisanya, tim bersantai di saung sambil menikmati sore bersama teh hangat. Pemandangan sangat menenangkan hati yang sedang galau dan ruwet. Tidak lama bersantai di Saung, Bu Wiwiek menghampiri tim dan memberitahukan bahwa makan malam sudah siap. Dengan keadaan yang lapar, tim langsung menyantap masakan Bu Wiwiek di Saung Sarongge. Sehabis menyantap masakan dengan keadaan perut kenyang, tim langsung berangkat menuju ke Sarongge Valley untuk beristirahat karena keesokan harinya tim harus bangun pagi.

Lihat perjalanan hari ke dua disini

Leave a Reply