+62 851 5501 0877 kalajourneyindonesia@gmail.com

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

Jurnal KALA 01: Desa Sarongge, Surga Kopi di Balik Gunung Gede Hari ke-2

Wisata Kopi Sarongge

Matahari yang memanggil dari kejauhan dan alarm handphone yang menunjukkan pukul 07.00 menandakan perjalanan eksplorasi harus dimulai. Tim KALA segera bergegas membereskan perlengkapan dan barang bawaan. Hari kedua adalah puncak dari perjalanan eksplorasi kopi di Desa Sarongge karena, di sini, tim disuguhkan dengan diorama nyata proses kegiatan pengolahan kopi secara komplit. 

Setelah melakukan checkout dari penginapan dan sarapan di Saung Sarongge, tim langsung bergegas menuju titik trekking pertama di Desa Sarongge. Pemandangan yang dipenuhi dengan ladang sayuran segar bersama dengan petani-petani yang sedang bercocok tanam menghiasi Desa Sarongge pagi itu. “Pagi dek, mau kemana?” tanya salah satu petani sayur dengan ramah. “Lihat-lihat kebun kopi pak”, jawab salah seorang tim KALA yang sedang berjalan membawa kamera.

Trekking di Pagi Hari

Hamparan Kebun Sayur Desa Sarongge
Hamparan Kebun Sayur Sarongge

“Ya, dari sini kita akan sedikit “mendaki” menuju kebun kopi pertama untuk belajar penanaman tumbuhan kopi”, jelas Kak Ivan. Keterangan “mendaki” yang diberitahukan Kak Ivan tidak salah karena untuk menuju kebun kopi dengan ketinggian 1535 mdpl lebih sedikit diperlukan tenaga ekstra. Walaupun perjalanan terkesan sangat melelahkan, namun rasa lelah terbayarkan dengan pemandangan yang spektakuler ketika tim mengarahkan pandangan ke belakang, ke arah daerah yang lebih rendah. Kabut yang turun perlahan yang dikombinasikan sinar matahari yang tidak terlalu cerah membuat suasana hari itu begitu “adem” dan relaxing, ya, semacam “terapi jiwa”.

Trekking di Desa Sarongge
Suasana Trekking Desa Sarongge

Eksplorasi Kopi Dimulai

Akhirnya, sekitar pukul 09.00 pagi, tim KALA sampai ke kebun kopi percontohan. Kebun kopi tersebut belum terlalu banyak dipenuhi oleh tanaman kopi yang besar namun masih dalam tahap pengembangan. Menurut cerita para petani yang menjadi guide, cerita awal dari penanaman kopi di Desa Sarongge dimulai dari masalah lahan yang tidak produktif yang “disulap” oleh para warga bersama dengan Pak Tosca Santoso menjadi tanah yang produktif dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. 

Sampai saat ini, Pak Tosca Santoso masih turun ke lapangan untuk memantau kinerja para petani binaannya supaya kopi yang dihasilkan tetap berkualitas. Nah, di sini, tim KALA juga berpartisipasi juga loh dalam membantu petani dengan menanam beberapa pohon kopi di lahan tersebut. Pohon yang ditanam juga diberi jarak kurang lebih 2 meter agar memenuhi standar perkebunan kopi.

Penanaman pohon kopi
Penanaman pohon kopi oleh peserta KALA Journey

“Semua kopi yang ditanam di sini adalah pohon kopi Arabika karena hanya Arabika yang hidup di ketinggian dari 700 – 1700 mdpl. Di sini, kami mengembangkan hanya kopi Arabika dengan grade terbaik. Jika lidah kalian peka, kopi Sarongge memiliki flavor notes seperti leci, jeruk, stroberi, dan buah-buahan lainnya tapi kalian tidak melihat tanaman leci, jeruk, atau stroberi di samping pohon kopi. Faktor flavor notes itu tidak hanya dihasilkan dari tumpang sari namun dipengaruhi juga oleh komposisi tanah, pupuk, suhu, dan faktor tanam lainnya.”, jelas Kak Ivan. 

“Oh satu lagi, Sarongge juga produksi kopi luwak liar loh, yang mahal itu. Tapi, ada aturan yang disepakati di sini, yaitu warga siapapun yang menemukan “produk” luwak tersebut di kebun miliknya, maka ia dapat menjual “produk” luwak tersebut ke Negri Kopi”.

Setelah menanam dan bermain di kebun kopi percontohan, tim kembali melanjutkan perjalanan ke area Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Ya, Desa Sarongge berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional dan tidak jarang ditemukan hewan-hewan endemik yang “mampir” ke desa. Jalanan yang terjal dan tawa-menertawai mewarnai perjalanan kali ini. Sesampainya di area, tim langsung mengambil istirahat sejenak di saung sederhana di area perhutanan. 

Kebun kopi percontohan
Area Kebun Kopi Percontohan

Udara segar yang dihembuskan pohon-pohon besar serta “bau” hutan yang khas menenangkan badan yang lelah dan pikiran penat pekerjaan. “Pohon-pohon besar yang kalian lihat itu adalah pohon-pohon adopsi dari masyarakat di Jakarta, yang di antaranya adalah pejabat dan artis. Layaknya adopsi hewan peliharaan, pohon ini juga merupakan peliharaan para adopter-nya dan ditujukan untuk mengembalikan fungsi utama hutan. Rasanya tidak ingin segera bergegas turun namun waktu dan perut mengisyaratkan tim untuk segera turun kembali ke bawah. 

Pengalaman Panen Buah Kopi

Kegiatan selanjutnya adalah panen buah kopi di kebun kopi milih Abah Rosidi. Walaupun bukan waktunya panen, pohon kopi tetap menghasilkan ceri merah, yang dikenal dengan istilah “buah sela”, dan buah inilah yang dipetik oleh tim. Memetik bukanlah hal yang mudah, banyak hal yang harus diperhatikan supaya buah yang dipetik dapat diproduksi semaksimal mungkin sehingga menjadi biji kopi terbaik nantinya. “Kami, di sini, hanya memetik buah yang merah saja supaya kualitas terbaik dari kopi Sarongge terjaga. Banyak petani kopi di tempat lain “memaksa” untuk memetik buah yang masih hijau agar mempercepat perputaran cash flow dan kami tidak ingin melakukan hal tersebut.”, kata salah satu petani kopi. 

Kebun Abah Rosidi ini termasuk salah satu kebun kopi yang terkenal di berbagai tulisan dan liputan Pak Tosca Santoso atau mengenai kopi Sarongge. Kebun kopi ini sudah dikelola lintas generasi dan hingga kini masih menghasilkan biji kopi terbaik. Rahasianya? “Merawat pohon kopi seperti membesarkan anak sendiri” Begitulah filosofi dari petani kopi satu ini. Saking banyak ceritanya, nama Rosidi sendiri dijadikan satu nama produk tersendiri untuk kopi Sarongge dan produk kopi ini cukup diincar oleh pecinta kopi nusantara. Yang menarik, kisah tentang Abah Rosidi dan kebun kopinya sudah dibukukan oleh Pak Tosca Santoso dan sudah dipublikasikan secara umum ke masyarakat. Jika kalian ingin mendapatkan bukunya, bisa langsung pesan via official website kopisarongge.com atau langsung saja berkunjung ke Negri Kopi di Sarongge.

Pemetikan buah kopi
Peserta merasakan pengalaman pemetikan buah kopi

Setelah merasakan proses panen kopi yang menyenangkan, tim diajak makan siang di salah satu rumah warga lokal Sarongge. Makanannya sangat khas dengan masakan kampung dengan sayur yang sederhana ditambah sambal yang “juara” membuat tim tidak berlama-lama menyantap makan siang yang sudah disediakan. Tidak lupa, tim juga disuguhkan lemon tea yang dibuat dengan bahan-bahan yang ditanam di sekitar rumah warga ditambah buah-buahan lokal matang yang baru saja dipetik. Suasana siang itu sangat hangat dan kekeluargaan dan mencirikan budaya kehidupan masyarakat Sunda yang harmonis. Banyak dari mereka juga bercerita bahwa mereka merasa sangat bahagia hidup di daerah pedesaan yang masih asri dan nyaman.

Sambil mendengar cerita, tidak terasa makanan yang disediakan sudah ludes dan tidak menyisakan sebutir nasi. Dengan perut yang kenyang, tim melanjutkan perjalanan untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan proses pasca panen kopi. “Ya, banyak di antara pecinta kopi yang kurang familiar dengan proses pasca panen padahal proses pasca panen justru merupakan salah satu faktor penentu rasa dan kualitas biji kopi yang dihasilkan.” Dari situ, tim berangkat ke Pabrik Negri Kopi, yang tentunya, menggunakan mobil pengangkut buah kopi lagi.

Negri Kopi, Proses Pasca Panen Kopi

Perjalanan selama 25 menit tersebut merupakan perjalanan terakhir tim untuk merasakan pemandangan kaki Gunung Gede sebelum pulang. Sesampainya di Negri Kopi, Kak Ivan mengajak tim untuk melihat fase pertama pengolahan buah kopi, yaitu seleksi, timbang, dan rendam, dan kebetulan belum ada buah kopi yang dipanen secara massal. Karena Negri Kopi sudah memiliki fasilitas pengolahan tersebut dengan kapasitas yang cukup besar, tim KALA bisa membayangkan pengolahan tersebut secara tidak langsung walaupun belum ada buah kopi yang diproses. 

Pabrik kopi Sarongge
Pabrik kopi sarongge

“Buah kopi yang kalian panen tadi akan ditimbang terlebih dahulu sebelum diproses lebih lanjut”, jelas Kak Ivan. Karena pertama kali masuk ke pabrik kopi, tim sempat penasaran dengan kolam bak kosong yang terhampar yang didesain “berundak” di dalam pabrik kopi. “Nah, nanti ceri kopi yang sudah ditimbang akan kita sortir dengan membuang buah/ceri kopi yang mengambang. Ada proses yang mengharuskan kopi dikupas terlebih dahulu baru direndam, ada juga proses tidak perlu dikupas sebelum direndam”, kata Kak Ivan sambil menunjuk ke arah kolam bak kosong tersebut. 

Kegiatan selanjutnya adalah melihat-melihat greenhouse Negri Kopi yang kebetulan tidak berjarak jauh dari station pertama pengolahan. “Greenhouse digunakan untuk mengeringkan biji kopi yang sudah difermentasi tadi di kolam sampai ke tingkat kadar air tertentu. Nanti testing kadar airnya menggunakan alat yang kita impor dari luar negeri karena di Indonesia belum jual. Prinsipnya itu nanti panas yang masuk ke green house diperangkap sehingga tidak bisa keluar dan ketika panas terik, suhu di dalam (greenhouse) bisa mencapai lebih dari 45 derajat Celcius”. Di sana, tim dapat melihat perbedaan pengeringan jenis produk kopi yang berbeda, seperti membedakan mana biji kopi yang diproses secara full wash dan mana biji kopi yang diproses secara natural. Tidak bisa dijelaskan sih dengan kata-kata, yang pastinya kalian juga harus merasakan pengalaman ini.

Greenhouse pengeringan Kopi Sarongge
Greenhouse sebagai media pengeringan biji kopi

Setelah banyak mendapatkan pengetahuan tentang pra-panen dan pasca panen, kurang afdol kalau tim tidak mencicipi kopi hasil tanah Sarongge. Ketika tim masuk ke ruang santai Negri Kopi, sudah tersedia beberapa gelas kopi dengan beberapa sendok cupping. Dengan panduan dari Kak Ivan mengenai cupping, tim mencoba beberapa biji kopi dengan pengolahan yang berbeda dan dengan teknik penyeduhan (manual brew) yang berbeda. 

Hal menarik yang dirasakan adalah tim dapat merasakan perbedaan rasa dan dapat, setidaknya, merasakan flavor notes berbagai produk Kopi Sarongge. Ada yang agak asam, ada yang asam kepahitan, dan ada yang kepahitan. Ya, itulah kopi, berbeda teknik tanam, berbeda proses biji kopi, berbeda penyeduhan, berbeda pula cita rasanya.

Cupping Wisata Kopi
Kegiatan cupping kopi Sarongge

Dan, perjalanan hari itu diakhiri dengan kegiatan cupping. Tidak lupa sebelum kembali ke rumah, tim tidak lupa untuk “jajan” beberapa produk kopi Sarongge dan produk UMKM Desa Sarongge lainnya. Di sini, kebetulan tim KALA tidak membawa uang cash dan, untungnya, Negri Kopi menyediakan pembayaran non-tunai berupa debit. Perjalanan kopi Sarongge akhirnya selesai dalam dua hari. Cukup? Tidak tentunya, masih banyak yang bisa dieksplorasi di Desa Sarongge, suasana bersama masyarakat, spot-spot eksotis di tengah kebun kopi, dan objek wisata lainnya. 

Tapi tenang, jika kalian ingin merasakan apa yang tim KALA rasakan, kalian bisa langsung pesan paket trip KALA JELAJAH KOPI SARONGGE di www.kalajourney.com atau bisa langsung direct message (DM) di @kala.journey untuk mendapatkan pengalaman eksplorasi yang nyata, tidak hanya dirasakan melalui artikel ini. Terakhir, bagi kalian yang membaca blog ini, kita tunggu petualangannya bersama KALA Journey!

Salam KALA Journey…..

Lihat perjalanan Hari Pertama di Sini

Leave a Reply