+62 851 5501 0877 kalajourneyindonesia@gmail.com

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

Jurnal KALA 02: Kampung Catang Malang, Penghasil Kopi Di Balik Awan

view dari kedai kopi sukawangi

Hai para pembaca setia Blog KALA Journey.com! Di tengah-tengah masa pandemi #COVID ini, pasti di antara kalian ada yang kangen masa-masa travelling ya? Daripada berdiam diri di rumah, gak tau mau ngapain, mendingan yuk simak cerita perjalanan Tim KALA. Dalam perjalanan eksplorasi kopi kali ini, Tim akan berkunjung ke salah satu kampung penghasil kopi di Bogor, yaitu kampung Catang Malang. Tentunya, perjalanan ini dilakukan sebelum wabah pandemi.

Perjalanan dimulai dari informasi mulut ke mulut tentang keberadaan perkebunan kopi di Bogor. Tim mendapatkan informasi dari beberapa orang tentang keberadaan perkebunan kopi modern di daerah Sukamakmur, Jonggol. Perkebunan kopi dari daerah satu ini, konon katanya, telah dibina oleh banyak ahli kopi dan telah memenangkan beberapa penghargaan internasional. Karena penasaran, Tim langsung berangkat ke “TEKAPE”. 

Perjalanan ditempuh menggunakan mobil pribadi via Toll Jorr menuju arah keluaran di Citeureup dari jam 6 pagi. Karena sebelumnya hanya mendapatkan informasi nama tempat, Tim mengandalkan Google Maps sebagai penunjuk arah. 

Sebelum sampai di tempat tujuan, Sukamakmur, Tim melewati pasar tradisional, hutan, hingga jalan menanjak yang rusak. Walaupun demikian, pemandangan sawah, kehidupan masyarakat, dan anak-anak kecil yang berlari membayar rasa kesal karena hambatan perjalanan.

Oh yah, di tengah jalan menuju Sukamakmur, kalian dapat menjumpai banyak hidden gem yang dikelola oleh masyarakat sekitar, seperti air terjun, “edutourism” park, dan bukit-bukit wisata. Karena Jawa Barat terkenal dengan air terjunnya, sepanjang jalan kalian akan melihat plang-plang penunjuk arah ke air terjun. Air terjun yang kalian dapat singgahi adalah Curug Ciherang, Curug Cipamingkis, dan Curug Cisarua. Dan, wisata lainnya yang dapat dikunjungi, antara lain adalah Trubus Edutourism Park dan Bukit Cinta Bogor.

Setelah 3 jam perjalanan non-stop, Tim akhirnya sampai di checkpoint pertama, yaitu Kedai Kopi Sukawangi di Taman Highland Sukawangi (Instagram: @sukawangikopi). Kedai kopi ini menyediakan kopi produksi daerah tersebut dan dikelola oleh masyarakat setempat yang dibina secara khusus. Desain dan ruang dari kedai kopi ini terbilang cukup sederhana namun alat-alat manual brew cukup lengkap. 

kedai kopi sukawangi
Kedai Kopi Sukawangi

Di sana, sudah standby barista yang mengelola kedai kopi dari pemasaran sampai operasional sehari-hari. Nama barista tersebut adalah Rusmayandi (Instagram: @rusmayandii) atau biasa dipanggil Kang Yandi. 

Ia adalah salah satu anak petani kopi setempat yang sekarang menjadi barista profesional bahkan telah memenangkan beberapa penghargaan barista. Dan, beruntungnya, Tim KALA sempat mencicipi kopi hasil seduhan tangan Kang Yandi. “Kopi sini sebenarnya, tanpa dikasih gula juga, akan terasa manis karena taste note khas kopi sini itu caramel.

Tak lama kemudian, Pak Ali Sungkowo (Instagram: @ali_kowo), ketua kelompok tani kopi Catang Malang, datang menyapa Tim KALA. Pak Ali Sungkowo menjadi pioneer petani kopi di Kampung Catang Malang hingga membawa kopi hasil tanamnya bersama petani lainnya ke Amsterdam dan Perancis. “Halo, kenalkan saya Ali”. Pak Ali menyambut dengan hangat kedatangan Tim KALA di kedai kopi dan mulai bercerita sembari menunggu hujan gerimis di kedai kopi.

“Kopi Bogor itu sebenarnya berasal dari bibit kopi Lampung yang ditanam di ketinggian sekitar 1400 mdpl sehingga rasa yang timbul akan kurang lebih dengan kopi Lampung. Tapi, istimewanya kopi di sini muncul rasa yang berbeda setelah ditanam di ketinggian yang berbeda dari bibitnya. Dengan bantuan pemerintah dan beberapa ahli kopi, kita di sini akan berkembang dan semakin semangat untuk menanam dan mengolah kopi Robusta, khususnya, di sini. Best performance dari kopi Catang Malang ini baru keluar setelah diproses dengan metode honey process dan winey.

pemandangan dari kedai kopi sukawangi
Pemandangan di sekitar kedai kopi Sukawangi

Oh ya, sebelumnya, banyak pertanyaan yang muncul setelah disebutkan “Catang Malang”. Nah, Catang Malang tidak ada kaitannya dengan nama daerah/kota Malang di Jawa Timur. Catang Malang sendiri adalah nama kampung di Kecamatan Sukamakmur, Bogor. Kebetulan, para petani kopi di sini, yang diketuai oleh Pak Ali, ingin mengangkat nama kampung sekaligus komoditas kopi yang mereka tanam ke taraf nasional bahkan internasional.

Hujan tiba-tiba berhenti, berganti sinar matahari dan langit cerah. Pak Ali mengajak Tim KALA untuk berkunjung melihat langsung kebun kopi Catang Malang. Tim KALA langsung berangkat menuju Kampung Catang Malang, pusat produksi kopi, yang berjarak sekitar 15-20 menit perjalanan. 

Akses masuk cukup kecil namun tetap bisa dilewati mobil. Disarankan bagi kalian yang ingin berkunjung, minimal jangan menggunakan mobil rendah karena ada beberapa bagian jalan yang susah dilewati mobil rendah.

Akhirnya, Tim KALA sampai di Kampung Catang Malang, kampung penghasil kopi, dan ini merupakan bagian utama dari perjalanan ini. Pertama-tama, Tim mengunjungi rumah warga yang menjadi tempat pengolahan pasca panen kopi. 

Di sana, Tim melihat ibu-ibu yang sedang menyortir biji kopi hijau (green bean) yang sudah kering secara manual di atas anyaman bambu. “Kopi di sini dipisahkan yang baik dan yang buruk. Karena ingin mengangkat brand kopi lokal, kami selalu mengusahakan kualitas terbaik dari biji kopi pilihan. Kami, semua di sini, tidak ingin orang yang mencoba kopi Catang Malang kecewa.”

proses menyortir biji kopi hijau
Proses menyortir biji kopi hijau

Selanjutnya, Tim KALA dibawa oleh Pak Ali untuk melihat-lihat greenhouse yang biasa mereka gunakan untuk menjemur biji kopi. Untungnya, cuaca hari itu tidak terlalu panas sehingga Tim KALA dapat melihat biji kopi yang sedang dijemur dan merasakan wangi kopi yang dijemur. 

Di sana, terhampar berbagai biji kopi yang akan menjadi produk yang siap dijual ke pasar, antara lain: honey process, full wash, natural, dan winey process. Selain itu, ada juga biji kopi yang rusak, berjamur, dan pecah di sana. Tentunya, biji kopi tersebut tidak dibuang begitu saja karena ada tengkulak yang khusus menampung. Ini membuat kopi tetap berharga meskipun dianggap rusak.

greenhouse kampung catang malang
Greenhouse di Kampung Catang Malang

Tidak jauh dari sana, ada area pengumpulan dan pengupasan biji kopi yang menjadi tahapan proses  biji kopi. Tempatnya sederhana namun memberi arti bagi semua rumah tangga di Catang Malang yang mayoritas petani kopi. Seluruh proses pasca panen dilakukan di rumah-rumah warga lokal sehingga kopi dapat dibilang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Yuk, kita langsung main ke kebun kopi dekat sini!”, kata Pak Ali. 

“Wah, di dekat sini memang ada kebun kopi, pak? biasanya kebun kopi itu kan jauh-jauh jaraknya?”, ujar Tim KALA

“Tenang, di sekitaran sini ada kebun kopi yang cukup tua milik seorang abah. Kebun kopi yang di dekat ini itu sudah dikelola oleh generasi kedua. Dan juga, di dekat kebun ada pohon Kakao bagi yang belum pernah lihat. Itu loh, yang buat bahan coklat. Nanti deh coba di sana saja. Yuk!”

Tim KALA pun langsung bergegas menuju ke kebun kopi. Di sana, terhampar kopi dengan ketinggian rata-rata 150 cm dan tanaman kopi muda yang baru sekitar 30 cm. Tanaman kopi dirawat layaknya anak sendiri oleh masyarakat sekitar sehingga kebun kopi nampak rapi dan tertata. “Tanaman kopi (robusta) ini dipertahankan tingginya di kisaran 150 cm supaya lebih mudah dalam memanennya dan supaya dia lebih banyak berbuah ke samping.”, kata Pak Ali sambil menunjuk pohon kopi yang sudah produktif.

Penjelasan di kebun kopi catang malang
Penjelasan di kebun kopi

Di antara tanaman kopi, ada beberapa pohon yang dijadikan pohon pelindung kopi, seperti pohon jeruk, pohon kakao, dan pohon-pohon lainnya. “Tanam kopi ini susah-susah gampang, agak cerewet sedikit sih. Harus ada sinar matahari tetapi harus tetap adem.” 

Pohon-pohon kopi di sana diberi jarak sekitar 2 meter. Katanya sih, pohon kopi semakin lama akan semakin lebat berbuah dan melebar ke samping. Dan memang benar! Tim KALA bisa melihat rimbunnya pohon kopi, cebol-cebol rimbun gitu.

“Pohon kopi di sini biasanya mulai berbuah sejak bulan Mei. Kalau kalian ke sini waktu masa panen raya, kalian bisa melihat banyak petani yang memetik kopi dan sekaligus bisa ikut metik. Seru banget deh pokoknya!” Dan sayangnya, Tim KALA pergi di bulan Februari dimana pemandangan yang dapat dilihat hanyalah buah-buah yang masih hijau, bukan merah. Tapi tidak apa-apa, travelling tetaplah travelling, melihat vibes kebun kopi saja sudah senang!

Tiba-tiba, Pak Ali menuju ke sebuah pohon dan memetik buah kuning. Ukurannya kurang lebih sebesar pepaya. “Nah, ini nih buah kakao, bahan dasar buat coklat. Ada yang cobain?” Lalu, Pak Ali menyodorkan buah kakao yang sudah dibelah. Karena penasaran, Tim KALA langsung mencicipi buah kakao yang baunya memang seperti coklat batangan. 

Rasa asam yang dominan membuat Tim KALA heran karena coklat yang biasa dibeli di Indomaret atau Alfamart berbeda jauh. “Biasanya coklat yang kalian temui di minimarket sudah diberikan gula, pemanis buatan, dan susu. Makanya, coklat yang selama ini “orang kota” kenal identik dengan rasa manis dan harumnya. Nah, inilah coklat yang sebenarnya.”

Buah Kopi
Buah dari pohon coklat

Setelah mencicipi buah kakao (coklat), Pak Ali memetik beberapa buah lagi untuk Tim KALA bawa pulang ke rumah. “Wah, terima kasih banyak pak, bisa jadi cemilan nih, hehehe.” Setelah bermain-main di kebun sambil berbincang, Tim KALA, yang tidak tahan sengatan nyamuk, bergegas keluar dari kebun kopi. “Nah, agenda selanjutnya adalah makan. Pasti kalian sudah lapar, ya, setelah berkeliling seharian,” ajak Pak Ali.

Rupanya, Tim KALA dijamu makan siang oleh Pak Ali. Little surprise ini membuat perjalanan semakin diwarnai dengan suka. Makan siang waktu itu diadakan di rumah Pak Ali, tepat di samping green house produksi kopi. Setelah sampai di rumah Pak Ali, Tim KALA disapa oleh istri Pak Ali dan mereka mempersilahkan Tim KALA untuk duduk. Suasana sederhana penuh arti, saat itu, membawa atmosfer kekeluargaan. 

Nah, ternyata istri Pak Ali juga bekerja membantu pengolahan kopi, termasuk untuk kegiatan giling dan packing kopi ke kemasan modern. “Dulu kemasan ini, anak-anak KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari IPB (Institut Pertanian Bogor) yang desain dan buat.” 

Tak lama kemudian, sayur-sayur sederhana dan piring-piring datang, dibawakan oleh istri Pak Ali. “Silahkan makan!” 

“Wah, terima kasih banyak pak dan teteh! Jadi nggak enak nih, hehehe”

“Maaf ya, sayurnya sederhana banget.”

Karena lapar, Tim KALA bersama Pak Ali langsung menyantap makan sore tersebut. Dan, ternyata, sayuran-sayuran yang dimasak istri Pak Ali merupakan sayuran yang juga ditanam oleh petani dekat situ. Sambil menyantap makanan, hujan turun perlahan dan menjadi deras tak lama kemudian. Chill banget! 

Setelah selesai makan sore, Tim KALA langsung bergegas mengingat minim penerangan selama perjalanan pulang. Tak lupa, saat pulang, Tim KALA membeli beberapa buah tangan untuk dibagikan kepada keluarga. 

“Pak, stok kopi masih ada gak? Mau beli dong buat diseduh di rumah, hehehe”

“Ada nih, sisa yang wine dan honey process, yang natural sama fullwash belum jadi. Oh ya, kopi wine di sini, kata orang-orang yang beli, bisa bikin melek loh, agak strong gitu.”

“Boleh deh, mau masing-masing 200 gram ya pak. Pas banget nih, beberapa hari ke depan harus begadang, ngerjain skripsi.

Biji kopi yang baru di-roasting beberapa hari lalu langsung digiling dan dikemas di situ. Rupanya, setiap rumah petani kopi di situ, masing-masing, memiliki penggiling, kemasan, dan stok biji kopi. Layaknya, perlengkapan yang wajib dimiliki setiap rumah. Kegiatan hari itu ditutup dengan foto bersama di dalam rumah Pak Ali karena hujan belum reda. 

Tim KALA pun pulang di tengah hujan. Dengan arahan Google Maps, Tim KALA berangkat menuju pulang. Perjalanan pulang dipenuhi dengan suasana hujan yang sendu dan kabut yang tipis. Pemandangan sawah yang segar masih terlihat dengan jelas. Di tengah jalan menanjak dan berlubang, sesekali mobil yang ditumpangi sangkut. Mau tidak mau, seluruh penumpang harus turun dan mendorong mobil yang sangkut di jalan. 

Ya, tidak apa-apa. Namanya juga eksplorasi kopi. Selalu ada cerita yang dibawa pulang. Sampai di Pasar Cibinong, Tim KALA singgah sebentar di A&W karena ada beberapa anggota tim yang pengen minum rootbeer sebelum sampai di BSD. Tim KALA berangkat dari Sukamakmur sekitar jam 4 sore dan tiba sekitar jam 8 malam. Maklum, perjalanan pulang ke BSD diwarnai dengan macet yang cukup panjang di jalan tol.

Dan, itulah perjalanan eksplorasi kopi Tim KALA Journey ke Kampung Catang Malang, Sukamakmur. Tim KALA berharap para pembaca blog ini dapat ikut-serta dalam perjalanan ini setelah pandemi berakhir. Akan lebih seru apabila merasakan langsung perjalanan bersama KALA Journey. Kami menantikan kalian semua pada eksplorasi kopi selanjutnya. 

Jangan lupa untuk follow Instagram @kala.journey untuk melihat dan mengikuti sneak peek perjalanan KALA Journey. Dan, jangan lupa juga untuk bagikan blog ini ke orang-orang yang ingin kalian ajak untuk berpetualang setelah pandemi. 

Salam, KALA Journey!

Bacaan Lainnya :

Jurnal KALA 01: Desa Sarongge, Surga Kopi di Balik Gunung Gede

Leave a Reply